Senin, 05 Desember 2011

PERGUMULAN GEREJA ABAD 20 – 21 TENTANG KRISTOLOGI.



PERGUMULAN GEREJA ABAD 20 – 21 TENTANG KRISTOLOGI.

Doktrin tentang Yesus Kistus atau Kristologi sebenarnya tercakup di dalam pergumulan bidang Soter atau doktrin keselamatan. Hal ini disebabkan : tentang ke Allahan dan ke-manusia-an Tuhan Yesus Kristus, serta pekerjaanNya memiliki relasi yang sangat erat dengan karya keselamatan.[1]

Kristologi berasal dari dua kata bahasa Yunani Koine criatoz dan logoz. Kata criotoz dalam bahasa Ibrani adalah baca : “Mashiah”, artinya : “Anointed one”, “yang di urapi’. Sedangkan kata logoz, artinya : ‘to speak’ bahasa Indonesia berarti : ‘membincangkan’. Dengan demikian maka kata Kristologi secara gambling di artikan sebagai : suatu pembicaraan atau doktrin tentang Kristus. Kristologi merupakan bagian dari Teologia sitematik.

Dalam kerangka Karya Allah untuk menebus dosa manusia bagi keselamatan, Yesus sebagai Juru Selamat yang dilahirkan itu haruslah manusia sejati namun juga Allah sejati. Sebab atau alasanya :

A. Jika Yesus Kristus bukan Allah, maka Ia pasti mempunyai dosa. Bila Ia berdosa maka mustahillah dapat menggenapi pekerjaan penebusan. Bila Yesus Kristus bukan Allah, maka Ia hanya seorang kudus dan nilai penyembahan kita kepadaNya pun amat rendah.

B. Kalau Yesus Kristus bukan manusia, Ia tidak tidak dapat dengan sempurna menyatakan Allah kepada manusia dan manusia pun tidak berdaya untuk mengenal sifat dan kehendak Allah.

Semakin berkembangnya pertumbuhan Gereja pada Abad XX – XXI, utamanya pada aliran Kharismatik dan Pantecostal adalah menunjukan semakin berkembangnya pekerjaan Tuhan Yesus di atas muka Bumi ini, cara generasi Kristen yang pertama menginterprestasikan fenomena Yesus dan mengungkapkan keyakinannya jauh dari seragam dan mengalami perkembangan yang pesat sekali.[2] Namun kita tidak boleh berpangku tangan akan keberhasilan gereja di Dunia ini, lantas kita berbangga dengan keadaan ini dan kemudian kita terlena dengan keadaan yang telah di capai gereja. masih banyak pekerjaan rumah bagi gereja yang belum terselesaikan, antaranya :

I. Tujuan Eksistensi Gereja.

Gereja dihadirkan Tuhan didunia ini untuk tujuan tertentu. Tujuan itu terkandung khusus dalam garis besar program kerja Allah dalam bentuk perjanjian sentral (Abrahamic Covenant), Kejadian 12 : 1-3.[3]

Hampir semua bagian central dan unilateral itu berhubungan dengan berkat bagi umat pilihan Allah yang lama (Israel), lalu kemudian pada bagian terakhir berhubungan dengan berkat bagi dunia ini. Melalui Abrahan dan keturunannya , Tuhan berjanji memberkati dunia ini (Kejadian 12:3b). Umat Israel menikmati berkat mereka sepuas-puasnya, namun mengabaikan program total penyelamatan umat manusia, termasuk non Israel. Akhirnya Allah membentuk umat pilihanNya yang baru, Ia namakan Eklesia (Matius 16:18) atau Keluarga Allah.(Efesus 2:19-20), yang lebih dikenal dengan nama gereja. Tujuan eksistensi gereja itu adalah agar ia menjadi sarana tunggal bagi program penyelamatan manusia yang sesat melalui program Allah dalam Yesus Kristus yang mati dan bangkit dari antara orang mati.

Tugas dan tanggungjawab ini yang terpenting bagi gereja di segala abad, di segala tempat, di setiap budaya. Inilah unsur yang membuat gereja beda dan unik. Dan tak ayal lagi bahwa globalisasi akan sangat menunjang realisasi misi. Para missiolog menamakannya Mandat Illahi Pembaruan atau Mandat Rohaniah. Memang sulit, tetapi bersama Tuhan pasti berhasil.

II. Tugas Kewarganegaraan Umat.

Anak-anak Allah adalah warga negara dua kerajaan; yaitu Kerajaan Allah dan Kerajaan di Dunia ini. Filipi 3:20-21 Karena kewargaan kita adalah di dalam sorga, dan dari situ juga kita menantikan Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat, yang akan mengubah tubuh kita yang hina ini, sehingga serupa dengan tubuh-Nya yang mulia, menurut kuasa-Nya yang dapat menaklukkan segala sesuatu kepada diri-Nya[4]

itulah sebabnya kita mengemban Mandat Illahi ganda. Yang pertama , Mandat Illahi Pembaruan, yang dipercayakan Allah kepada gerejaNya (dijelaskan diatas). Yang kedua, Mandat Illahi Pembangunan; yang dipercayakan Allah kepada semua insan, termasuk didalamnya orang-orang percaya. Kita adalah warga gereja yang sekaligus warga masyarakat Republik Indonesia, bertanggung jawab melaksanakan Mandat Illahi Pembangunan negara tercinta ini.

Ayat-ayat dalam Filipi diatas menegaskan bahwa tugas dan tanggung jawab gereja ialah sementara mempersiapkan manusia dengan hakekat dan kehidupan baru untuk memasuki Kerajaan Damai (Yohanes 3:3,5), juga harus terus dengan tekun menjalankan tugas pembangunan bangsa. Istilah kewarganegaraan dalam dua nats diatas dalam bahasa Yunani dipakai kata Poleteo , yang ditranslitasikan dari bahasa inggris kedalam bahasa Indonesia dengan kata politik. Dalam hal ini tugas pembangunan di sisi sosial, ekonomi, politik dan budaya adalah tugas tetap manusia sepanjang masa, sampai memasuki era globalisasi abad XXI.

Mandat Illahi Pembangunan (fisik) ini merupakan mandat dari Allah kepada manusia sebagai masyarakat apapun agamanya, untuk menjadikan bumi ini sebagai tempat yang baik untuk dihuni. Usahanya ditujukan kepada perbaikan kultur secara kuantitatif maupun kualitatif agar manusia dapat hidup dalam keadaan sehat sesuai sistem moral dan maksud luhur sang pencipta. Didalamnya manusia memperoleh keuntungan dan Allah dipermuliakan. Sarana bagi Mandat Illahi Pembangunan ini adalah negara ataupun perkumpulan-perkumpulan masyarakat atau bangsa-bangsa.

Dasar-dasar Alkitab mengenai mandat kultural ini disampaikan pada masa pradosa di taman Eden. (Kejadian 1:28) dan 2:15). Di sana Allah berfirman agar bumi dihuni, dipenuhi, ditaklukkan, dikuasai, dikerjakan, dan dipelihara sebagai tempat tinggal yang baik. Sesudah kejatuhan manusia kedalam dosa, tanggung jawab manusia diperbesar lagi. Ini ternyata dari Firman Allah kepada Nuh sesudah air bah (Kejadian 8:15; 9:17), dan seruan kepada para nabi lainnya.

Tuhan Yesus dan Paulus mempertegas pernyataan bahwa tanggung jawab ini dipercayakan kepada para pemerintah di semua negara di dunia ini tanpa ada perbedaaan.(Matius 22:21; Roma 13:1-7; Lukas 20:25; Markus 12:7). Semua jajaran pemerintahan dunia ini yaitu, raja-raja, presiden-presiden, para menteri, anggota MPR-DPR, kongres-kongres, senat, para gubernur, para walkota, para bupati, para camat, lurah, kepala desa dan berjuta-juta pegawai pemerintahan dalam menjalankan tugas, pada hakekatnya sedang menjalankan tugas/mandat ini (Roma 13:17). Dilengkapi dengan partisipasi masyarakat, pajak-pajak, sumbangan sukarela, sumbangan ilmu pengetahuan, moral, mental, material dan lain lain, menggambarkan bahwa barangkali 99% seluruh potensi dan personal yang ada di dunia ini sedang dicurahkan bagi suksesnya mandat ini.

Teologi Alkitabiah menerima Mandat Illahi Pembangunan ini sebagai buah iman, sekaligus sebagai sarana penginjilan. Meskipun ini penting namun nilainya temporal; kecuali bila dikawinkan dengan Mandat Illahi Rohaniah yang bersifat kekal itu.

III. Tujuh Dosa Modern.

Keluarga Allah yang hidup dalam dunia modern dan era globalisasi, disamping harus memahami situasi dimana ia hidup, haruslah juga membiasakan dirinya dengan isu-isu yang dihadapi oleh orang-orang Kristen diseluruh dunia. Stephen Covey, pakar teori persepsi dan manajemen, dalam bukunya \”Principle-Centered Leadership\”[5] mengemukakan 7 dosa maut [6]dari pemimpin masa kini :

1. Kaya tanpa bekerja.

Gereja di perhadapkan dengan pergumulan yang tidak kecil, berkaitan dengan harta dan kekayaan yang ingin dicapai oleh Umat untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dengan dasar hidup yang sesuai dengan Firman Allah ‘yang tidak bekerja tidak boleh makan..,kata pemazmur Daud..’

2. Hiburan tanpa hati nurani.

Memenuhi kebutuhan hidup, manusia perlu hiburan.., tidak salah namun, mencari hiburan pun hati nurani yang bersih agar tidak masuk pada wilayah porno grafi, yang akhirnya merusak mental, hal ini juga harus menjadi pergumulan gereja di era globalisasi sekarang ini.

3. Pengetahuan tanpa karakter.

Ilmu pengetahuan yang terus berkembang, tidak serta-merta membawa dampak positif, namun juga dapat menjerumuskan orang Kristen pada tegnologi yang merusak mentalitas generasi muda, hal ini perlu menjadi bagian beban Doa Umat dan pemuka agama itu sendiri.

4. Perdagangan / Bisnis tanpa moralitas/ Etika.

Bisnis pun akan juga bisa membahayakan mentalitas orang kriten apabila tidak di barengi dengan Etika Kristen yang baik dan didasari Firman Tuhan, dalam usaha dan bisnisnya. Akan ada penipuan-penipuan untuk mencapai keberhasilan dan ke untungan dan akan melanggar norma-norma berdagang yang benar.

5. Iptek tanpa kemanusiaan.

Ilmu Pengetahuan dan Tegnologi, selalu memberi dampak yang yang baik sekaligus tidak baik apabila tidak ada bagian-bagian yang harus di peruntukan bagi kemaslahatan orang banyak, artinya bagi kepentingan social.

6. Agama tanpa pengorbanan.

Kepercayaan kepada Tuhan akan menjadi sia-sia apabila tanpa adanya Kasih dan Pengorbanan bagi sesama dan juga baut pelayanan umat.

7. Politik tanpa prinsip.

Memiliki metode untuk berkarya adalah merupakan politik untuk meraih ke berhasilan, namun apabila politik atau metode itu tanpa sasaran ke arah kebaikan/kebenaran itu merupakan suatu kesia-sia an.

Jenis kepemimpinan yang bagaimanakah yang dibutuhkan oleh gereja/seorang hamba Allah masa kini untuk menghindarkan diri dari kekeliruan-kekeliruan fatal untuk memimpin umat sehingga mereka tidak jatuh kedalam pencobaan-pencobaan itu? (Yehezkiel 34:1-7).

Substansi pelayanan gereja harus berpusat pada bagaimana menangkal dosa-dosa tersebut. Mendeteksi, menganalisis dan memahami dahsyatnya pengaruh dosa itu adalah tak sesukar mencegah dan mengobati penyakit dosa-dosa itu. Bila hal ini diabaikan, kemungkinan besar gereja tidak relevan lagi dalam abad yang baru karena tidak mampu menjawab permasalahan yang dihadapi oleh umat dan bangsa.

Tuhan Allah memberikan pola kepemimpinan dan pengayoman yang perlu kita teladani dalam gereja masa kini (Yehezkiel 34:11-16 dan Yohanes 10:1-17) sehingga gereja boleh berdiri cemerlang secara global didepan masa-masa yang sukar di akhir zaman ini. (Wahyu 12:1-6). Untuk itu ditengah-tengah isu-isu global yang mengancam martabat dan moral bangsa serta gereja, kita harus tampil sebagai pemimpin dan gereja yang:

a) Tetap berdiri teguh diatas kebenaran Firman Allah,

b) Memiliki visi Allah bagi zamannya,

c) Kerja keras,

d) Tahan uji,

e) Mengutamakan pelayanan,

f) Berdisiplin kuat.

IV. Teknologi Canggih.

John Naisbitt dan partnernya, futuris sekular masa kini dalam bukunya \”Megatrend 200\”[7], menyadarkan para ilmuwan dan teknokrat/negarawan bahwa kita sedang hidup dalam satu dunia yang sedang mengalami perubahan-perubahan secara cepat disegala bidang kehidupan. Persiapan yang direncanakan secara teliti sangatlah dibutuhkan untuk menghadapi perubahan-perubahan tersebut. Perubahan-perubahan yang cepat. Namun bagi Kristus, pekerjaannya pada masa kini ialah saat IA bangkit dari kematian dan naik ke Surga, dibedakannya kekuasaannya di Bumi (Roh Kudus) dan di Surga.[8]

V. Modernisasi.

Intensitas modernisasi yang sedang merebak di Tanah Air akan diperkuat dan dipercepat realisasinya oleh arus globalisasi, karena memang teman dekat globalisasi adalah modernisasi. Kata modernisasi berasal dari kata bahasa Inggris (modernization) yang pengertian menurut kamus \”Webster Dictionary\” berarti \”menjadikan modern\” yaitu menyesuaikan diri dengan pemakaian gaya atau selera masa kini. Di dalam gereja pun alami modernisasi yang berkembang di mulai dari Amerika Serikat atau yang di kenal dengan “American Movement”, lalu dari sana dengan cepat keseluruh Dunia.[9] Dari gerekan modern pada gereja, ada hal-hal yang juga berdampak negative di antaranya masuknya kegiatan-kegiatan yang sifatnya dunia masuk pada pengajaran gereja yang seharusnya sacral dan suci.

Kesimpulan

Tetapkan Agenda Gereja.

Era globalisasi dapatlah dijemput oleh gereja dan pemimpin-pemimpinnya dengan menetapkan beberapa kegiatan utama yang berprioritas pada:

  1. Peningkatan mutu iman umat agar mereka bercahaya dan berdiri teguh diabad baru.

Dengan tantangan dan pergumulan gereja seperti yang telah tercatat di atas aka ada banyak dampak yang akan di rasakan gereja di era sekarang ini, antaranya adalah mutu Iman pada orang Kristen masa kini akan menjadi merosot dan pada akhirnya akan berdampak pada pekabaran Injil akan menurun, berikutnya banyak terjadi kemurtad an, sehingga banyak orang Kristen meninggalkan Iman Kristennya. Namun untuk mengantisipasinya perlu ada Persekutuan, dalam Persaudaraan (Koinonia) dalam hidup orang Kristen masa kini.[10]

  1. Pembinaan pemimpin yang otentik dan relevan yang mampu mempersatukan kualitas rohaniah dan alamiah.

Pembinaan pada para pemimpin umat perlu di giatkan agar dapat mengejar ketinggalan antara Religi dan Tegnologi berjalan se imbang, hal ini di mulai dari para pemimpin rohaniwan nya, dan rohaniwannya memberikan pengaruh positif terhadap umat yang di pimpinnya.

  1. Perencanaan yang komprehensif untuk menyelesaikan tugas utama gereja yang merupakan tujuan eksistensinya.

Adanya perencanaan yang matang dan berkelanjutan dari gereja di zaman modern ini sangatlah penting, karena di perhadapkan dengan masalah-masalah yang sangat komplek dan mendasar, maka perlu adanya Pelayanan jemaat (Diakonia) yang bukan secara tertutup dan puas diri, namun harus terbuka dan diutus untuk terlibat dalam masyarakat.[11]

  1. Penyesuaian perangkat dan pendekatan agar relevan tapi biblikal.

Pentingnya pelayanan Injil ( Kerygma)[12] yang memenuhi kebutuhan rohani umat yang cocok dengan zaman sekarang dan tetap pada ketentuan Alkitab adalah merupakan solusi tepat bagi tantangan yang dihadapi gereja saat ini dan bahkan untuk seterusnya bahkan selamanya.

  1. Perubahan bentuk, sistem dan kurikulum pendidikan Teologi dan non Teologi agar terpelihara keseimbangan anatara teori dan praktek serta antara iman dan ilmu.

Perlunya Paradikma baru dalam pengajaran Teologia, akan sangat mempengaruhi dan berdampak positif pada pelayanan gereja, agar menjadi antisipasi terhadap perkembangan globalisasi dalam segala sector, dan berdampak negative pada gereja dan umat.

  1. Perjuangan kearah kemandirian Teologi/ ajaran Alkitab.

Perlunya komitmen pada ajaran Alkitab, yang berwibawa dan berdampak pada kehidupan generasi modern yang kaitannya dengan Iman dan Keselamatan. Hal ini dapat diterapkan pada Ibadah (Liturgika) pada gereja saat ini.

  1. Penemuan struktur kerjasama yang relevan untuk menciptakan persekutuan yang kreatif antara semua komponen dan denominasi gereja yang Alkitabiah.

Kerjasama antara Denominasi gereja saat sekarang adalah merupakan bukti nyata yang harus di tunjukan kepada Dunia, bahwa gereja mampu melebur menjadi satu kesatuan yang kokoh dan tak terkalahkan meski apa pun tantangannya.

Ditengah-tengah pergumulan dan tantangan yang kita hadapi umat Tuhan di Indonesia saat-saat ini, mata kita harus tetap menengadah keatas untuk menyadari bahwa perubahan yang cepat sebagai tanda modernisasi sedang bergerak menciptakan arus globalisasi yang sangat kuat, bahwa Tuhan Yesus tidak lama lagi akan datang. Kita justru harus tampil di depan untuk menjadi ujung tombak umat-umat manusia yang boleh berharap pada Sang Penciptanya. Pergulatan Kreatif tersebut selalu mengandung komunikasi Iman Aktual Umat, yang berada dalam situasi dan keadaan kongkrit dengan kesaksian Iman kepada Yesus Kristus, yang pertama-tama terungkap dalam Kitab Suci dan dihayati oleh Gereja sepanjang masa sampai saat ini.

Dalam pergulatan itu Injil penyelamat yaitu Yesus Kristus menjadi hidup. Injil tidak hanya meneguhkan, melainkan juga mengkritik kebudayaan manusia manapun juga. Kabar gembira mengundang untuk bertobat dan memasuki hidup baru.

DAFTAR PUSTAKA

1. Alkitab, Terjemahan Baru, L.A.I, 2007.

2. Diktat Kristologi, STA-Batu, 2004.

3. JB. Banawiratma Sj, Kristologi dan Allah Tritunggal, Kanisius Yogyakarta 1986, halaman 24.

4. Stephen Covey, Principle-Centered Leadership.

5. Pdt.F. H. Saerang, sikap & Tanggung Jawab Gereja, menghadi Globalisasi, GPdI World.

6. John Naisbitt, Megatrend 200.

7. John F Wavoord, Yesus Kristus Tuhan Kita, Yakin, Surabaya 1969, hal 206.

8. Pdt.Dr. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran Gereja, Gunung Mulia, Jakarta 2003, hal 438.


[1] Diktat Kristologi, STA-Batu, 2004.

[2] JB. Banawiratma Sj, Kristologi dan Allah Tritunggal, Kanisius Yogyakarta 1986, halaman 24.

[3] Pdt.F. H. Saerang, sikap & Tanggung Jawab Gereja, menghadi Globalisasi, GPdI World.

[4] Alkitab, terjemahan Baru, L.A.I, 2007.

[5] Stephen Covey, Principle-Centered Leadership

[6] Pdt.F. H. Saerang, sikap & Tanggung Jawab Gereja, menghadi Globalisasi, GPdI World.

[7] John Naisbitt, Megatrend 200

[8] John F Wavoord, Yesus Kristus Tuhan Kita, Yakin, Surabaya 1969, hal 206.

[9] Pdt.Dr. Jan S. Aritonang, Berbagai Aliran Gereja, Gunung Mulia, Jakarta 2003, hal 438.

[10] JB. Banawiratma Sj, Kristologi dan Allah Tritunggal, Kanisius Yogyakarta 1986, halaman 94.

[11] Ibid 99.

[12] Ibid 96.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar